Ayo Cegah Cacingan! Sehat Tanpa Cacing!
Cacingan merupakan salah satu penyakit menular yang hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit ini dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah, terutama pada daerah dengan sanitasi yang kurang baik. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya terbatas pada gangguan kesehatan fisik, tetapi juga mempengaruhi status gizi, kemampuan belajar, kecerdasan anak, hingga penurunan produktivitas masyarakat secara umum. Kondisi ini menunjukkan bahwa cacingan bukan hanya masalah individu, melainkan juga tantangan pembangunan kesehatan bangsa.
Oleh karena itu, upaya pengurangan cacingan perlu dilakukan secara menyeluruh, terutama pada kelompok rentan seperti anak balita dan anak usia sekolah yang paling sering tertular. Penanggulangan program tidak hanya mengandalkan pemberian obat, tetapi juga melibatkan keterlibatan aktif masyarakat untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Selain itu, dukungan lintas program dan lintas sektor sangat penting, misalnya kerja sama antara sektor kesehatan, pendidikan, pemerintah daerah, serta peran keluarga. Dengan sinergi yang kuat, diharapkan penyebaran kecacingan dapat terus ditekan sehingga anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat, cerdas, dan produktif.
1. Definisi Cacingan
Cacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing usus (Soil-Transmitted Helminths/STH) seperti cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), cacing tambang (Ancylostoma duodenale/Necator americanus). Infeksi ini terjadi ketika telur atau larva cacing masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, tanah yang tercemar, maupun kontak langsung dengan tangan atau kulit yang kotor. Cacing kemudian hidup di dalam dan menyerap nutrisi maupun darah, sehingga dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti anemia, kekurangan gizi, gangguan pertumbuhan usus, hingga penurunan konsentrasi belajar. Infeksi ini terutama menyerang anak usia sekolah dan balita karena kebiasaan hidup yang belum bersih.
2. Penyebab Cacingan
Penyebab utama cacingan adalah masuknya telur atau larva cacing ke dalam tubuh melalui:
- Konsumsi makanan/minuman yang terkontaminasi telur cacing.
- Kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan.
- Kontak langsung dengan tanah yang tercemar tinja mengandung telur cacing.
- Kurangnya sanitasi lingkungan (BAB sembarangan).
3. Cara Penularan
Cacingan menular melalui mekanisme:
- Oral–fecal : telur cacing masuk lewat makanan/minuman kotor.
- Kulit : larva cacing tambang dapat menembus kulit, misalnya saat berjalan tanpa alas kaki di tanah tercemar.
- Autoinfeksi : kebiasaan menggaruk anus kemudian tangan tidak dicuci bersih dapat menularkan kembali ke tubuh.
4. Gejala Cacingan
Gejala cacingan dapat berbeda, namun umumnya meliputi:
- Perut buncit, nyeri perut, mual, atau diare.
- Nafsu makan menurun.
- Berat badan tidak naik/kurus.
- Anemia (pucat, lemas) terutama akibat infeksi cacing tambang.
- Gangguan konsentrasi dan prestasi belajar menurun.
5. Beberapa Tips Pencegahan :
- Cucilah tangan sebelum makan. Budayakan kebiasaan dan perilaku pada diri sendiri, anak dan keluarga untuk mencuci tangan sebelum makan.
- Pakailah alas kaki jika menginjak tanah. Jenis cacing ada macamnya. Cara masuknya pun beragam macam, salah satunya adalah cacing tambang (Necator americanus ataupun Ankylostoma duodenale). Kedua jenis cacing ini masuk melalui larva cacing yang menembus kulit di kaki, yang kemudian jalan-jalan sampai ke usus melalui trayek saluran getah bening.
- Gunting dan bersihkan kuku secara teratur.
- Jangan buang air besar sembarangan dan cuci tangan saat membasuh. Setiap kotoran apabila dikubur dengan baik, termasuk kotoran manusia, perlahan sering terjadi bagi semua orang.
- Peduli dengan lingkungan, maka akan dapat memanfaatkan hasil yang baik. Jika air yang digunakan terkontaminasi dengan tinja manusia, memungkinkan telur cacing bertahan pada kelopak-kelopak tanaman yang ditanam dan terbawa oleh angin.
- Cucilah sayur dengan baik sebelum diolah. Cucilah sayur di bawah air yang mengalir. Agar kotoran yang melekat akan terbawa air yang mengalir.
- Berhati-hati terhadap makanan mentah atau setengah matang, terutama di daerah yang sanitasinya buruk. Perlu dicermati juga, makanan mentah tidak selamanya buruk.
- Buanglah kotoran hewan peliharaan seperti kucing atau anjing pada tempat pembuangan khusus.
- Pencegahan dengan meminum obat anti cacing setiap 6 bulan, terutama bagi Anda yang risiko tinggi, seperti petani, anak-anak yang sering bermain pasir, pekerja kebun, dan pekerja tambang (orang-orang yang terlalu sering berhubungan dengan tanah).
6. Penanggulangan
Menurut Permenkes No. 15 Tahun 2017, strategi penanggulangan cacingan dilakukan dengan:
- Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) : pemberian obat cacing secara berkala minimal 1–2 kali setahun pada kelompok sasaran (anak usia pra-sekolah, anak sekolah, wanita usia subur, pekerja berisiko).
- Perbaikan sanitasi lingkungan : penyediaan jamban sehat, air bersih, dan kebiasaan cuci tangan pakai sabun, potong kuku secara rutin, konsumsi makanan matang dan bersih.
- Edukasi kesehatan : meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
7. Edukasi Obat
Pemberian Obat dan dosis obat untuk pencegahan dan pengobatan selektif yang direkomendasikan :
Albendazol
Albendazol merupakan obat cacing berspektrum luas. Obat bekerja dengan menghambat pembentukan energi cacing sehingga mati. Albendazol juga memiliki efek larvisida terhadap cacing gelang (A. lumbricoides) dan cacing tambang serta memiliki efek ovisida terhadap cacing gelang (A.lumbricoides), cacing tambang (A.duodenale) dan cacing cambuk (T.trichiura). Setelah pemberian oral, albendazol akan segera mengalami metabolisme lintas pertama dihati menjadi
metabolit aktif albendazol-sulfoksida. Absorbsi obat akan meningkat bila diberikan bersama makanan berlemak. Waktu paruh albendazol adalah 8 – 12 jam dengan kadar puncak plasma dicapai dalam 3 jam. Pada pasien dewasa dan anak usia 2 tahun diberikan dosis tunggal 400 mg per oral. Untuk askariasis berat dapat
diberikan selama 2 – 3 hari. WHO merekomendasikan dosis 200 mg untuk anak usia antara 12 – 24 bulan. Penggunaan yang tidak lebih dari 3 hari, hampir bebas dari efek samping. Efek samping biasanya ringan dan berlangsung sekilas yaitu rasa tidak nyaman di lambung, mual, muntah, diare, nyeri kepala, pusing, sulit tidur dan lesu. Albendazol tidak boleh diberikan pada Penderita yang memiliki riwayat hipersensitivitas terhadap obat golongan
benzimidazol dan penderita sirosis. Pada askariasis berat, dapat terjadi erratic migration yaitu hiperaktivitas. A. lumbricoides yang bermigrasi ke tempat lain dan menimbulkan komplikasi serius seperti sumbatan saluran empedu, apendisitis, obstruksi usus dan perforasi intestinal yang disertai peritonitis. Pada pasien dengan demam serta wanita hamil trimester satu. Pengobatan dapat ditunda bila terdapat salah satu kontra indikasi di atas.
Mebendazol
Mebendazol memiliki mekanisme kerja yang sama dengan albendazol. Setelah pemberian oral, kurang dari 10% obat akan
diabsorpsi kemudian diubah menjadi metabolit yang tidak aktif dengan waktu paruh 2 – 6 jam. Ekskresi terutama melalui urin dan sebagian kecil melalui empedu. Absorpsi akan meningkat bila diberikan bersama makanan berlemak. Dosis untuk dewasa dan anak usia lebih dari 2 tahun
adalah 2 X 100 mg/hari, selama 3 hari berturut-turut. Untuk askariasis, cacing tambang dan trikuriasis. Sebelum ditelan sebaiknya tablet dikunyah lebih dulu. Pemberian jangka pendek hampir bebas dari efek samping yaitu mual, muntah, diare dan nyeri perut yang bersifat ringan. Pada dosis tinggi sehingga ada efek sistemik dapat terjadi agranulositosis, alopesia, peningkatan enzim hati dan
hipersensitivitas. Kontraindikasi untuk ibu hamil karena ditemukan efek teratogenik pada hewan coba. Pada anak usia dibawah 2 tahun, perlu berhati hati karena data
penggunaan masih terbatas dan ada laporan terjadi kejang. Seperti pada albendazol erratic migration dapat terjadi pada askariasis berat.
Pirantel pamoat
Pirantel pamoat efektif untuk askariasis dan cacing tambang. Obat tersebut bekerja sebagai neuromuscular blocking agent yang menyebabkan pelepasan asetilkolin dan penghambatan kokinesterase sehingga menghasilkan paralisis spastik. Dosis yang dianjurkan 10 mg-11 mg/kgBB per oral, maksimum 1 gram, tidak dipengaruhi oleh
makanan. Efek sampingnya jarang, ringan dan berlangsung sekilas antara lain mual, muntah, diare, kram perut, pusing, mengantuk, nyeri kepala, susah tidur, demam, lelah. Hati-hati pada penderita gangguan fungsi hati, karena dapat meningkatkan serum amino transferase pada sejumlah kecil Penderita yang memperoleh pirantel. Data penggunaan obat pada ibu hamil dan anak usia dibawah 1 tahun masih terbatas, oleh karena itu penggunaan untuk kelompok tersebut tidak dianjurkan.
Cara pakai : obat diminum setiap 6 bulan, obat diminum setelah makan, bisa dikunyah/diminum langsung.
Efek samping ringan (umumnya jarang dan sementara):
- Mual, muntah.
- Nyeri perut.
- Sakit kepala.
8. Obat Bisa Didapat Dari Mana?
- Apotek resmi
- Toko obat resmi
Obat cacing (Albendazol) diberikan Gratis melalui:
- Puskesmas
- Sekolah (program Bulan Penanggulangan Cacingan)
- Posyandu
Kesimpulan
Cacingan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penanggulangannya menekankan pada pemberian obat massal, perbaikan sanitasi, dan edukasi PHBS. Dengan rutin minum obat cacing yang disediakan gratis di fasilitas kesehatan, kita bisa mencegah dampak buruk cacingan pada pertumbuhan dan perkembangan anak.
Referensi : Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan No. 15 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan.







Komentar
Posting Komentar